Ekonomi

Belajar dari Jepun kelola distribusi pangan berbasis koperasi

11
×

Belajar dari Jepun kelola distribusi pangan berbasis koperasi

Sebarkan artikel ini
Belajar dari Jepun kelola distribusi pangan berbasis koperasi

DKI Jakarta – Siapapun yang berkunjung ke Jepang, salah satunya bisa saja mengamati serta mempelajari secara segera bagaimana pusat distribusi pangan direalisasikan dalam negeri itu.

Salah satu destinasi yang mana amat menyita perhatian perhatian adalah Pasar Ota, salah satu pusat distribusi pangan terbesar di Jepang. Pasar Ota menyajikan secara gamblang bagaimana sistem lingkungan ekonomi grosir beroperasi.

Pasar ini juga menerapkan teknologi juga manajemen yang dimaksud dapat diadopsi untuk meningkatkan efisiensi distribusi pangan dalam Indonesia.

Manajemen Pasar Ota juga sangat terbuka untuk memberikan penjelasan mengenai bagaimana sistem bursa bekerja. Sadafumi Takahashi (Operation Manager), Chise Harada (Management Section Manager), Yoshiki Hosokawa (Manager), kemudian Seiichiro Sugawara (Division Deputy Manager, General Affairs) menyambut tamu dengan sangat ramah kemudian terus-menerus siap berbagi.

Sadafumi Takahashi misalnya menjelaskan tentang eksistensi Pasar Ota dengan luas area mencapai 386.426 m² sebagai lingkungan ekonomi terbesar dalam antara 11 Pasar Grosir Pusat yang dimaksud dikelola oleh otoritas Metropolitan Tokyo.

Pasar ini berubah menjadi pusat kegiatan komoditas segar seperti buah-buahan, ikan, lalu bunga potong sejak diintegrasikan pada tahun 1989 dari beberapa lingkungan ekonomi yang dimaksud tambahan kecil. Berlokasi strategis dekat Bandara Haneda lalu Pelabuhan Tokyo, Pasar Ota bermetamorfosis menjadi pusat logistik yang dimaksud vital bagi Tokyo serta seluruh Jepang.

Pasar Ota (dalam Bahasa Jepun disebut Ota Ichiba) yang mana merupakan tempat kebanggaan lalu bahkan lebih tinggi besar dari Pasar Tsukiji,  menyambut pengunjung dengan ikan, makanan kemudian pelelangan bunganya.

Saat ini, prasarana yang tersebut ada sangat luar biasa jumlahnya dengan aktivitas pergudangan sehari-harinya yang digunakan memproduksi 3.600 ton dan juga hampir 33 ton komoditas makanan laut. Pasar ini juga merupakan pangsa bunga terbesar di Jepang.

Pasar Ota mengungkap dari pukul 05.00 sampai 15.00 setiap harinya dengan jadwal pelelangan yang tersebut berbeda untuk tiap item misalnya ikan mulai pukul 05.40, sayuran mulai pukul 06.50, buah-buahan mulai pukul 07.00, dan juga bunga mulai pukul 07.00.

Hal yang memproduksi Pasar Ota mendebarkan lalu patut dijadikan inspirasi yakni terkait dengan layanan utamanya sebagai tempat kejadian pelelangan barang yang mana transparan.

Setiap pagi, pelelangan barang dilaksanakan oleh grosir yang mengirimkan item segar untuk penjual perantara lalu pengecer. Proses ini dijalankan secara transparan dan juga diawasi oleh pemerintah, menjamin biaya yang tersebut adil juga diketahui oleh petani melalui publikasi harga.

Kemudian, Pasar Ota juga menerapkan metode operasi yang beragam. Selain pelelangan, Pasar Ota juga menggunakan kegiatan negosiasi, pada mana biaya ditetapkan melalui pembicaraan antara penjual juga pembeli tanpa adanya kompetisi ke antara pembeli. Ini adalah memberikan fleksibilitas tambahan pada proses perdagangan.

Dan yang mana tak kalah unik, skala lalu variasinya menjadi yang digunakan terbesar di dalam Jepang. Pasar Ota adalah lingkungan ekonomi item pertanian terbesar ke Jepang, dengan sekitar 3.875 ton atau senilai 1,18 miliar yen sayuran kemudian buah-buahan diperdagangkan setiap hari. Sebagian besar komoditas ini dikirim ke pengecer besar seperti supermarket, yang digunakan menegaskan pasokan makanan yang digunakan stabil lalu berkualitas besar bagi masyarakat.

Pelajaran penting

Kunjungan ini memberikan berbagai wawasan bagi Negara Indonesia tentang bagaimana bursa grosir dapat dikelola secara efektif.

Beberapa pelajaran yang digunakan mampu diadopsi untuk Nusantara meliputi pengelolaan lingkungan ekonomi yang dimaksud efisien lalu terstruktur. Penerapan manajemen yang terstruktur juga efisien, seperti yang tersebut diwujudkan pada Pasar Ota, dapat membantu meningkatkan efektivitas distribusi pangan ke Indonesia.

Selain itu teknologi di logistik serta kegiatan sangat memudahkan konsumen. Mengadopsi teknologi modern di logistik serta proses dapat meningkatkan transparansi kemudian efisiensi bursa pangan di dalam Indonesia.

Dan yang digunakan tak kalah penting adalah kerja mirip Pasar Ota dengan koperasi petani menjadikan pangsa ini semakin baik bagi contoh pemberdayaan masyarakat.

Bekerja mirip dengan lembaga koperasi seperti JA (Japan Agriculture) yang tersebut mewakili petani, dapat membantu meyakinkan harga jual yang adil kemudian dukungan bagi petani di meningkatkan produksi mereka.

Pasar Ota adalah contoh yang mengesankan dari bursa grosir pusat yang digunakan sukses, dengan sistem kegiatan yang digunakan efisien kemudian dukungan logistik yang digunakan kuat.

Pengalaman kemudian pengetahuan yang dimaksud diperoleh dari kunjungan ini sangat berharga untuk dijadikan inspirasi dan juga solusi di pengembangan lingkungan ekonomi grosir atau pusat distribusi pangan pada Indonesia, yang pada akhirnya dapat menggalang ketahanan pangan nasional.

Dengan belajar dari praktik terbaik di Jepang, Indonesia dapat mengimplementasikan strategi sejenis untuk meningkatkan efisiensi juga transparansi di distribusi pangan, yang akan berdampak positif bagi petani kemudian konsumen pada seluruh negeri.

Dalam konteks Indonesia, penduduk memerlukan pengelolaan distribusi pangan yang tersebut lebih besar teratur tanpa gejolak tarif yang tersebut meresahkan. Oleh dikarenakan itu, koperasi perlu terus untuk didorong dan juga dikembangkan agar mampu berubah menjadi solusi wadah kelembagaan bagi petani sekaligus pemasok rantai pasar.

Sebab peran koperasi dalam sektor pertanian ini sangat penting untuk menyejahterakan anggotanya, memajukan tatanan sektor ekonomi di dalam pedesaan, dengan tujuan besarnya adalah mewujudkan ketahanan pangan kemudian mengentaskan kemiskinan dalam Indonesia.

*) Penulis adalah Utusan Khusus Presiden (UKP) RI Lingkup Kerja Sama Pengentasan Kemiskinan kemudian Ketahanan Pangan.

Artikel ini disadur dari Belajar dari Jepang kelola distribusi pangan berbasis koperasi