Research

Rupiah Ambruk, Deretan Emiten dengan Utang Dolar Jumbo Hal ini Bisa Boncos

16
×

Rupiah Ambruk, Deretan Emiten dengan Utang Dolar Jumbo Hal ini Bisa Boncos

Sebarkan artikel ini
Rupiah Ambruk, Deretan Emiten dengan Utang Dolar Jumbo Hal ini Bisa Boncos

Jakarta, CNBC Negara Indonesia – Rupiah Tanah Air makin tenggelam berperang melawan dolar Amerika Serikat (AS). Sepanjang tahun 2024, pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah terjadi terperosok 6% di dalam level Rp16.370/US$1.

Melambungnya dolar Amerika Serikat tentu akan mengakibatkan dampak buruk bagi perekonomian Indonesia, salah satunya dapat mengupayakan kerugian dan juga turunnya performa kinerja keuangan perusahaan-perusahaan pada Negara Indonesia yang tersebut mempunyai hutang terhadap dolar AS.

Dengan dolar Amerika Serikat yang mana terus melambung, beban pada hutang dolar Negeri Paman Sam akan terus meningkat dikarenakan kerugian selisih kurs antara rupiah juga dolar AS.

Perusahaan-perusahaan yang telah lama tercatat dalam Bursa Efek Negara Indonesia (BEI) pun akan berdampak terhadap pelemahan rupiah.

Emiten di dalam sektor consumer goods, otomotif, telekomunikasi hingga properti tercatat rentan terhadap pergerakan rupiah.

PT Indofood CBP Berhasil Makmur Tbk (ICBP) sebagai salah satu sektor consumer goods miliki hutang di dolar AS. Tercatat utang usaha di dolar Negeri Paman Sam ICBP per 31 Maret 2024 tercatat Rp345,6 miliar, adapula utang tidak bidang usaha pada dolar Amerika Serikat sebesar Rp157,89 miliar, juga utang jangka panjang diantaranya porsi yang digunakan jatuh tempo di waktu satu tahun pada dolar Negeri Paman Sam tercatat Rp43,59 triliun.

Selain itu saham consumer goods lainnya, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga memiliki utang di dolar Amerika Serikat untuk pembelian substansi baku lalu material pembantu sebesar Rp9,35 miliar per 31 Maret 2024.

Dari sektor otomotif, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) juga memiliki utang perniagaan di dolar Negeri Paman Sam sebesar Rp791 miliar per 31 Maret 2024.

Dari sektor telekomunikasi, PT XL Axiata Tbk (EXCL) tercatat miliki hutang pada dolar AS, dimana total hutang pada dolar Amerika Serikat sebesar Rp666,62 miliar per 31 Desember 2023. Diketahui XL Axiata memiliki pendapatan utama Grup di mata uang Rupiah, sedangkan belanja modal utama Grup pada mata uang dolar AS. Organisasi pun rentan terhadap pergerakan kurs mata uang asing yang digunakan akan timbul khususnya dari utang perniagaan Grup di mata uang dolar AS.

Adapula dari sektor telekomunikasi, PT Telkom Nusantara (Persero) Tbk (TLKM) yang digunakan mempunyai hutang di dolar Negeri Paman Sam untuk menggalang aktivitas operasional perusahaan. Tercatat total hutang usaha Telkom di dolar Negeri Paman Sam sebesar Rp3,59 triliun per 31 Maret 2024.

Dari sektor properti, PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) juga miliki utang pada dolar Amerika Serikat pada bentuk utang obligasi. Tercatat per 31 Maret 2024, utang obligasi jangka panjang sebesar Rp3,6 triliun.

Dalam melakukan kegiatan usahanya, perusahaan sebagian besar mempergunakan mata uang rupiah di hal proses penjualan, pembelian material baku lalu beban usaha. Transaksi usaha di mata uang asing hanya saja dilaksanakan untuk hal-hal khusus, kemudian apabila hal yang dimaksud berlangsung manajemen akan melakukan reviu berkala melawan eksposur mata uang asing tersebut. Perusahaan memiliki utang obligasi, surat utang senior pada mata uang dolar AS, untuk itu perusahaan miliki kebijakan lindung nilai mata uang asing dengan melakukan lindung nilai melawan utang obligasi.

Kemudian, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) juga mempunyai utang usaha untuk pihak ketiga di dolar Amerika Serikat sebesar Rp1,76 miliar per 31 Maret 2024. Selain itu, perusahaan miliki obligasi di dolar Amerika Serikat sebesar Rp94,96 miliar per 31 Maret 2024.

Adapun, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) yang mana mempunyai utang obligasi pada dolar Negeri Paman Sam sebesar Rp6,84 triliun per 31 Maret 2024.

Sanggahan: Artikel ini adalah item jurnalistik sebagai pandangan CNBC Tanah Air Research. Analisis ini tidaklah bertujuan menghadirkan pembaca untuk membeli, menahan, atau mengirimkan komoditas atau sektor pembangunan ekonomi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tiada bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang tersebut timbul dari tindakan tersebut.

Artikel ini disadur dari Rupiah Ambruk, Deretan Emiten dengan Utang Dolar Jumbo Ini Bisa Boncos