Nasional

Stafsus Menteri BUMN sebut anak perniagaan Kimia Farma rekayasa keuangan

10
×

Stafsus Menteri BUMN sebut anak perniagaan Kimia Farma rekayasa keuangan

Sebarkan artikel ini
Stafsus Menteri BUMN sebut anak perniagaan Kimia Farma rekayasa keuangan

Ibukota Indonesia – Staf Khusus III Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga mengemukakan bahwa pihaknya menemukan adanya dugaan rekayasa keuangan dari anak bidang usaha Kimia Farma.

“Kimia Farma juga demikian. Ada inilah, rekayasa keuangan,” kata Arya usai meresmikan Vending Machine UMKM PT Pegadaian di dalam Jakarta, Rabu.

Arya menyampaikan bahwa pihaknya telah menemukan adanya dugaan rekayasa keuangan pada anak Kimia Farma. Namun, beliau bukan mengumumkan secara rinci anak perusahaan tersebut. “Temuannya udah ada, tinggal diproses aja,” ucap Arya.

Arya menjelaskan bahwa rekayasa keuangan yang dimaksud diduga diwujudkan anak bisnis Kimia Farma itu berbeda dengan yang terjadi pada dugaan perkara fraud pada PT Indofarma.

“Itu beda, beliau (anak bidang usaha Kimia Farma), rekayasa keuangan. Beda sebanding kalau Indo (Indofarma) itu kan uangnya hilang, diambil, kalau ini kan beliau rekayasa, menggelembungkan,” jelas Arya.

Lebih lanjut, Arya menjelaskan, bentuk rekayasa keuangan yang tersebut diduga diwujudkan oleh anak usaha Kimia Farma yaitu seakan-akan hasil perdagangan atau distribusi berjalan baik. Tetapi pada kenyataannya hasil transaksi jual beli bukan berjalan baik.

“Misalnya di dalam distribusi distribusi serta sebagainya, seakan-akan jualan semua bagus padahal enggak. Anaknya si KF (Kimia Farma),” tutur Arya.

Arya mengungkapkan bahwa temuan dugaan rekayasa keuangan yang disebutkan berdasarkan hasil audit internal PT Kimia Farma.

“Itu hasilnya kalau nggak ada audit dari internalnya KF (Kimia Farma) mana dapat itu, dikarenakan yang digunakan audit internal makanya didapat itu,” ungkap Arya.

Lebih lanjut area menambahkan bahwa permasalahan lain yang mana terbentuk pada kimia Farma yaitu banyaknya pabrik yang tersebut dibangun tetapi dinilai tak efisien.

“Dan disamping itu juga KF (Kimia Farma) ada juga problem dalam pabriknya. Yaitu kebanyakan pabrik, enggak efisien. Makanya dari 10 pabrik akan tinggal lima pabrik yang dikelola. Iya, jadi enggak efisien lah pokoknya, dulu itu terlalu sejumlah bangun pabrik. Padahal enggak butuh,” demikian Arya menjelaskan.

 

Artikel ini disadur dari Stafsus Menteri BUMN sebut anak usaha Kimia Farma rekayasa keuangan