Kesehatan

Fuji Akui Kurangi Konsumsi Gula, Benarkah Makanan Manis Bisa Memperparah ADHD?

35
×

Fuji Akui Kurangi Konsumsi Gula, Benarkah Makanan Manis Bisa Memperparah ADHD?

Sebarkan artikel ini
Fuji Akui Kurangi Konsumsi Gula, Benarkah Makanan Manis Bisa Memperparah ADHD?

Nadineworldwide.com – Selebgram Fujianti Utami alias Fuji rupanya mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) sejak 2022 lalu. Ia sendiri baru mengetahui kondisinya pasca mengunjungi psikolog.

Fuji mengaku inisiatif ke psikolog itu datang oleh sebab itu ia merasakan beberapa gejala seperti mudah lupa hingga susah fokus.

“Aku kan sempet suka nabrak, maksudnya kayak tiap jalan tuh apa pun ditabrak. Terus tiap naruh barang juga suka lupa,” terang Fuji, dalam kawasan Pondok Indah, Jakarta, Selasa (26/12/2023).

Karena diagnosis tersebut, Fuji pun menghadapi banyak pantangan. Salah satunya adalah larangan mengonsumsi makanan atau minuman manis yang tinggi gula.

“Itu (makanan serta minuman manis) sanggup menyebabkan aku semakin hiperaktif. Misalkan dulu, aku suka nyemil cokelat. Nah habis nyemil coklat aku aktif. Tapi malamnya aku gak dapat tidur terus energinya habis banget,” sambungnya.

Fujianti Utami alias Fuji [Instagram/@fuji_an]
Fujianti Utami alias Fuji [Instagram/@fuji_an]

Benarkah Makanan Manis Bisa Memperparah ADHD?

Sebagai informasi, konsumsi gula berlebih selama ini dipercaya sanggup memperparah kondisi pengidap ADHD.

Sejumlah penelitian pun telah lama mengamati apakah konsumsi gula memengaruhi ADHD, tetapi belum ada bukti kuat yang menunjukkan hal tersebut.

Dikutip dari kanal YouTube INAHEALTH, dr. Shinta Retno Kusumowati, dokter spesialis kedokteran jiwa RSA UGM memberi penjelasan mengenai hubungan makanan manis lalu ADHD.

“(Cokelat memperparah ADHD) bisa jadi dikatakan mitos ataupun fakta, oleh sebab itu penelitian yang tersebut sudah ada ada masih menunjukkan hasil beragam,” ujarnya, dikutipkan Rabu (27/12/2023).

Pasalnya pada beberapa kasus, pembatasan makanan yang mengandung pewarna buatan, penambah rasa, dan juga gula, sanggup memperingan gejala.

“Namun pada perkara lainnya bukan berpengaruh. Hal ini disebabkan sensitivitas setiap anak pada isi makanan tertentu beda-beda, jadi bukan sanggup disamakan atau dipukul rata,” terangnya.

(Sumber: Suara.com)